Sejarah
Sesudah bekerja dengan pihak kedua, beliau mencoba untuk bekerja sama dengan orang kampung untuk mendirikan Yayasan. Setelah terwujud, nama Yayasan ini sebelumnya Yayasan Budi Bangsa, karena pendiri tidak sinkron dengan ketua. Pendiri pun memutuskan untuk mendirikan Yayasan bernama Yayasan Budi Bangsa Indonesia, yang di mana hanya terdapat kata tambahan, yakni Indonesia. Yang dirubah sejak 26 September 2019, menjadi Yayasan Budi Bangsa Indonesia. Semenjak itu ketua Yayasan mengajak semua kalangan untuk membantu anak-anak asuhnya di Yayasan, diantaranya 2 orang Ustadz dari Garut untuk ikut serta membantu memajukan Yayasan, terutama di bidang materi. Kami menyuruh kedua Ustadz tersebut untuk memasukkan kotak amal ke toko-toko atau rumah makan untuk biaya tambahan Yayasan, Alhasil kami sukses memasukkan 100 kotak ke toko, maupun rumah makan. Karena Ustadz tersebut tidak mengetahui mana tempat yang ramai atau tidak, maka penghasilan dari kotak rata-rata sebesar Rp 3.500.000 setiap bulannya, dari 100 kotak. Dari hasil kotak amal ini, ketua Yayasan belum mampu memberi gaji kepada 2 Ustadz tersebut, karena pemasukkan ke Yayasan menjadi minus, dibandingkan dengan pemasukkan. Dengan niat yang tulus, ketua Yayasan beserta istrinya bermusyawarah untuk membuka Cabang yang pertama yakni di daerah Bintaro, Tanggerang. Karena kedua orang tersebut selalu bersama, ketua Yayasan meminjam dana untuk mendirikan Cabang di Kota Bandung karena sudah ada beberapa anak yang harus dibantu. Pendirian cabang di kota bandung dilakukan setelah 4 bulan berdirinya Cabang Yayasan di daerah Bintaro, Tanggerang. Mudah-mudahan kedepannya Yayasan Budi Bangsa Indonesia ini dapat lebih maju, dan banyak bermanfaat ilmunya, keahliannya, melalui Yayasan Budi Bangsa Indonesia. Sebagai penutup, penulis La Tahzan Innallaha Ma’anna. Yang artinya “Janganlah kamu bersedih, karena Allah Subhannahu Wa Ta’alaa selalu bersamamu.” Lakukanlah yang terbaik untuk anak-anak yatim dan Dhuafa.
Sesudah bekerja dengan pihak kedua, beliau mencoba untuk bekerja sama dengan orang kampung untuk mendirikan Yayasan. Setelah terwujud, nama Yayasan ini sebelumnya Yayasan Budi Bangsa, karena pendiri tidak sinkron dengan ketua. Pendiri pun memutuskan untuk mendirikan Yayasan bernama Yayasan Budi Bangsa Indonesia, yang di mana hanya terdapat kata tambahan, yakni Indonesia. Yang dirubah sejak 26 September 2019, menjadi Yayasan Budi Bangsa Indonesia. Semenjak itu ketua Yayasan mengajak semua kalangan untuk membantu anak-anak asuhnya di Yayasan, diantaranya 2 orang Ustadz dari Garut untuk ikut serta membantu memajukan Yayasan, terutama di bidang materi. Kami menyuruh kedua Ustadz tersebut untuk memasukkan kotak amal ke toko-toko atau rumah makan untuk biaya tambahan Yayasan, Alhasil kami sukses memasukkan 100 kotak ke toko, maupun rumah makan. Karena Ustadz tersebut tidak mengetahui mana tempat yang ramai atau tidak, maka penghasilan dari kotak rata-rata sebesar Rp 3.500.000 setiap bulannya, dari 100 kotak. Dari hasil kotak amal ini, ketua Yayasan belum mampu memberi gaji kepada 2 Ustadz tersebut, karena pemasukkan ke Yayasan menjadi minus, dibandingkan dengan pemasukkan. Dengan niat yang tulus, ketua Yayasan beserta istrinya bermusyawarah untuk membuka Cabang yang pertama yakni di daerah Bintaro, Tanggerang. Karena kedua orang tersebut selalu bersama, ketua Yayasan meminjam dana untuk mendirikan Cabang di Kota Bandung karena sudah ada beberapa anak yang harus dibantu. Pendirian cabang di kota bandung dilakukan setelah 4 bulan berdirinya Cabang Yayasan di daerah Bintaro, Tanggerang. Mudah-mudahan kedepannya Yayasan Budi Bangsa Indonesia ini dapat lebih maju, dan banyak bermanfaat ilmunya, keahliannya, melalui Yayasan Budi Bangsa Indonesia. Sebagai penutup, penulis La Tahzan Innallaha Ma’anna. Yang artinya “Janganlah kamu bersedih, karena Allah Subhannahu Wa Ta’alaa selalu bersamamu.” Lakukanlah yang terbaik untuk anak-anak yatim dan Dhuafa.